
MITOS – Ilmu kebal di Sulawesi Selatan memang cukup terkenal. Sejumlah pria di daerah ini memiliki ilmu kebal yang luar biasa. Bila ditikam, badik hanya akan melenting di tubuh yang ditikan. Badik tak bisa menembus kulit seorang yang kebal. Bila dia ditembak, maka peluru tak akan sampai mengenai yang ditembak, atau peluru akan meleset tak bisa mengenai tubuh yang ditembak. Itulah ilmu yang luar biasa dari Sulawesi Selatan. Dan tentu juga di daerah lain tak menutup kemungkinan adanya ilmu kebal seperti ini.
Adalah pria kebanggan Sulawesi Selatan, mantan Wakapolri Jusuf Manggabarani, adalah salah satu pria Sulawesi Selatan yang memiliki ilmu kebal yang membanggakan. Puang, panggilan spesifik bagi para sahabat terhadap Jusuf Manggabarani, adalah sosok pria pemberani yang disegani di lingkup kepolisian, dan sangat ditakuti oleh kalangan penjahat.
Dikutip merdeka.com dari buku Jusuf Manggabarani Cahaya Bhayangkara yang ditulis Nur Iskandar, kisah kehebatan Puang muncul lebih meluas dalam hal ilmu kebal ini.
“Biar Jusuf Manggabarani saja ke Palopo dari pada Kapolwiltabes Bandung. Enak benar dia di Bandung itu.” Kata-kata itu dikeluarkan oleh seorang petinggi Polri yang mengatur penempatan personel.
Situasi di Kota Palopo, Sulawesi Selatan, tengah memanas. Jusuf digeser karena memiliki pengalaman di daerah konflik. Dia juga merupakan pria asli Makassar, kurang lebih mengetahui lokasi dan tabiat warga di kawasan tersebut.
Satu pekerjaan rumah harus diselesaikan, yakni menghadapi begundal bernama Sukri. Sudah 16 tahun Sukri berkuasa. Tak ada satu pun polisi berani menerima tantangannya untuk baku tembak dari jarak dekat.
Bukan Jusuf namanya jika ciut menghadapi yang model begini. Saat itu dia berpangkat komisaris besar (Kombes). Dengan naik trail dan pakaian Brimob, Jusuf selempangkan senjatanya. Dia tancap gas membelah jalan raya menuju Mangkutana.
Sampai di lapangan Sukri sudah menunggu dengan senjata rakitan Pa’Poro. Jarak tembak maksimum 45 meter. Keduanya pun bersiap melepaskan timah panas. Hidup atau mati tergantung nasib.
Anak buah Jusuf diam-diam ikut. Sukri juga ditemani para loyalisnya. Lalu Jusuf membuka kancing bajunya. Ditunjuk dadanya sebagai sasaran tembak.
Anak buah Jusuf diam-diam ikut. Sukri juga ditemani para loyalisnya. Lalu Jusuf membuka kancing bajunya. Ditunjuk dadanya sebagai sasaran tembak.
“Terserah kamu mau tembak bagian mana yang enak-enak,” tantangnya.
Ajudan Jusuf gamang. Ada juga yang teriak, “jangan komandan”. Yusuf membalas, “ah kau nonton saja,” kata polisi yang pernah tugas di Aceh, Kalimantan dan Timor Timur ini.
“Isi pelurumu sebanyak-banyaknya! Pilih yang besar-besar agar mantap nembaknya,” kata Jusuf sesumbar.
Setelah semua siap suasana hening. Situasi berubah setelah terdengar letusan tembakan, dor, dor, dor. Ternyata Sukri lebih awal menembak. Tewaskah Jusuf?
Ternyata timah panas itu berguguran di depan Jusuf. Semakin banyak peluru dimuntahkan, makin berjatuhan peluru itu. Para anggota pun bersorak melihat kejadian ajaib itu. Mereka terheran-heran dengan kemampuan sang komandan.
“Pelurunya jatuh tuh. Sekarang giliran saya ya,” kata Jusuf membuat lutut Sukri gemetar. Dor! Sukri tak berdaya, lengannya ditembus timah panas.
Jusuf mendekati Sukri. Selongsong pelurunya dibuka lalu serbuk timahnya dibubuhi ke lubang tembakan. Dia menyuruh anak buahnya untuk membawa sang jagoan kampung ke rumah sakit.
Sesuai komitmen, jika kalah Sukri yang dikenal sebagai beking preman di kawasan perkebunan kakao berserta anak buahnya menyerah. Ada puluhan yang bertekuk lutut, tetapi lima saja yang diperiksa. Kepala desa juga diciduk karena terlibat kejahatan Sukri.
Sejak kejadian itu menyebar dengan cepat jika Jusuf punya ilmu kebal. Banyak yang datang ‘menyembah-nyembah’ Jusuf agar diturunkan ilmu tirai. Menurutnya, untuk menguasai ilmu itu harus memiliki nyali. “Kalau pelurunya nyampai betul wah tewas kita,” ujarnya sambil tertawa.
Kapolda Sulawesi Selatan saat itu rupanya penasaran juga dengan kemampuan Jusuf. Dia bertanya langsung ketika Jusuf melaporkan kejadian tersebut. “Sebentar saja ditangani komandan. Diskresi di lapangan,” kata Jusuf.
“Saya dengar kamu ada ilmu tirai?” tanya sang Kapolda.
“Ah itu ilmu naksir jarak saja komandan. Kalau mata kurang jelas itu sudah 60 meter. Saya suruh dia berdiri di jarak 60 meter. Saya mundur sedikit, maka aman,” jawab Jusuf.
Sang Kapolda pun tertawa mendengar itu. Jusuf memang dikenal agak nyeleneh, gimana tidak seorang Wakapolda meladeni tantangan Sukri si preman kampung.
Setelah itu kariernya terus melesat. Jusuf sempat menjadi Dansat Brimob, lalu Kapolda Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sulsel. Lalu, dia menjabat sebagai Kadiv Propam dan Irwasum.
Jusuf merupakan jebolan Akademi Kepolisian 1975. Dia pensiun dengan pangkat komisaris jenderal (Komjen). Jabatan terakhirnya adalah Wakapolri.
Seorang pria yang megaku dekat dengan Puang, yakni H.Ridwan Pangile, kepada Wartawan Majalah MITOS mengungkapkan, bahwa memang Puang punya ilmu kebal yang luar biasa. Apalagi kalau Puang dalam keadaan marah, maka ilmu kebalnya semakin hebat. Puang itu, kata Ridwan, antara lain memiliki sepasang batu montaq warna cokelat yang menjadi kekuatan ilmu kebalnya, disamping beberapa benda mistik lainnya milik Puang, yang mengandung kekebalan bagi pemilik atau pemakainya. “Dan tentu saja benda-benda ini adalah ciptaan Allah SWT yang kemudian menjadi milik Puang” kata Ridwan.
Profil Jusuf Manggabarani
Komjen Pol (Purn) Jusuf Manggabarani lahir di Makassar 11 Februari 1953. Ia adalah lulusan Akpol tahun 1975 dan dalam pernah bertugas di Dili, Timtim (sekarang Timor Leste) sebagai pasukan khusus anti gerilya BKO Korem mulai pangkat Letda sampai Kapten (sekarang AKP).
Sejak 1976 sampai 1982, Jusuf Manggabarani menjabat Kasat Sabhara Polwiltabes Makassar dan kemudian Dansat Brimob di Makassar dengan pangkat mayor (sekarang Kompol).
Antara tahun 1982 sampai 1988, ia masuk Sespim, kesatuan Gegana kemudian mengambil Sesko ABRI. Selanjutnya, dari tahun 1988 sampai 1994 menjabat Kapolwiltabes Makassar, Kapolwiltabes Bandung, Wakapolda Sulsel, Dansat Brimob. Jusuf pernah juga menjabat Kapoda NAD dan Kapolda Sulsel (1994-2002). Pada 2004 menjabat Kadiv Propam, pada 2005 sebagai Irwasum, dan Wakapolri pada 2010.
Jusuf Mangga resmi pensiun dari jajaran kepolisian tanggal 1 Maret 2011 dan posisinya sebagai Wakapolri digantikan oleh Komjen. Polisi Nanan Soekarna. Dia sempat menjadi Wakapolri untuk 2 Kapolri secara berturut-turut yaitu Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri dan Kapolri Timur Pradopo. darna

