Thursday, August 18, 2016

Karebosi Makassar sebelum direvitalisasi
Karebosi Makassar sebelum direvitalisasi
Karebosi Makassar sebelum direvitalisasi

Mitos — Kisah-kisah mistik tentang Karebosi memang bukanlah cerita dadakan. Berbagai kisah menyertai tanah lapang di jantung kota Makassar tersebut muncul sejak lama. Mungkin seusia dengan zamannya. Tentu banyak yang mengandung kebenaran, namun juga tidak tertutup kemungkinan ada yang meleset, bahkan jauh dari kisah yang pas.
Itulah Karebosi. Legenda yang tak kering dari misteri. Tersebutlah misalnya kisah seorang lelaki misterius yang mengaku bernama Umara. Lelaki tua itu datang ke Balikpapan-Kalimantan Timur di awal tahun 1970-an menemui seorang prajurit TNI (ABRI ketika itu), HZB Palaguna.

“I nakke minne anak, suroanna Tuanta Salamaka. Riwattunna tallasa inji, nakke akkumpulu ri Karebosi. Nia kamara anjoeng. Nia’ ero kuappauwangngiko,” begitu Umara berkata dalam bahasa Makassar kepada Zainal Basri Palaguna, yang artinya ; Sayalah ini anak, suruhannya Tuanta Salamaka (Syekh Yusuf). Sewaktu masih hidup, saya berkumpul di Karebosi. Ada kamar disana (Karebosi). Ada yang saya mau sampaikan ke kamu (Palaguna).

Penggalan kalimat tersebut sekaligus memaknakan keberadaan Karebosi dengan segala misterinya. Umara dalam penggalan kisah HZB Palaguna, seperti yang ditulis dalam buku bertajuk “Jangan Mati Dalam Kemiskinan”, Roman Biografi HZB Palaguna, itu telah memantik sebuah mitos besar akan kebesaran Karebosi. Umara dipandang sebagai anak suruhan dari Tuanta Salamaka, yang pernah bersama-sama bermukim di Karebosi.
Kedatangan Umara seperti dikisahkan dalam buku setebal 363 itu, lebih mengapungkan makna supranatural yang sangat kental, dan memang dipercaya memiliki banyak kelebihan bahkan kerap dikeramatkan. Pengakuannya yang menyebut pernah tinggal di Karebosi sekaligus berarti Karebosi bukanlah tempat biasa, melainkan sebuah lokasi yang mengandung sejuta misteri.
Simak saja misalnya cerita tersebut. “Saya disuruh dari Makassar untuk melihat anak Bapak yang sakit di sini,” ujar Umara  setengah pelan namun tegas sehingga membuat HZB Palaguna terkesima. Basri terkaget dan isterinya, Normi, tidak bisa menyembunyikan keheranannya bercampur rasa takut.

Bukan apa-apa. Umara, orang yang barusan saja menginjak rumahnya. Tapi mengapa sampai mengetahui bila si buah hati Palaguna itu jatuh sakit ? Padahal sebelumnya tidak pernah ada komunikasi di antara mereka. Memang ketika itu, anak pertama pasangan Palaguna-Normi bernama Rini dalam keadaan sakit keras. Sudah kesana kemari pergi berobat, namun penyakitnya semakin parah.

“Bila saya memegang anakmu, empat hari kemudian penyakitnya akan pergi dan ia sembuh. Ia akan bisa berdiri,” begitu kalimat yang keluar dari mulut Umara dan didengar baik-baik oleh Palaguna. Tidak lama berselang, Umara malah memerintahkan kepada Basri Palaguna untuk mengambil badik yang ada di atas lemari dan biasa ia raut-rautkan sarungnya lalu dibersihkannya. Umara ingin melihat badik itu.

Bagi Basri, ucapan Umara itu makin membuatnya penasaran. Ini misteri. Bukankah badik itu tidak pernah diperlihatkan, telebih lagi kepada Umara yang baru saja dikenalnya. Dia tersontak. “Bagaimana mungkin dia tahu keberadaan badikku,” desah Basri membatin.
Kendati berkali-kali membantah tidak menyimpan badik tersebut, namun Umara tetap memaksa. “Tolong ambilkan badik itu,” katanya lagi-lagi dalam bahasa Makassar.

Tidak hanya sampai di situ. Rasa takjub Basri kian menjadi-jadi tatkala Umara menyebut tiga dukun yang  ada di rumah Basri. Padahal tak sekalipun Basri pernah memberi tahu kalau di ruamahnya ada dukun yang dipanggil untuk menyembuhkan sakitnya Rini. Seketika tiga dukun perempuan itu keluar dan berteriak histeris dan jatuh pingsan.
Anehnya, Rini kecil tiba-tiba sudah bisa bergerak seketika Umara duduk bersimpuh di dekatnya. Umara menyampaikan doa dengan mulut yang komat-kamit.

Rini yang kemudian ditakdirkan menjadi dokter itu menangis dengan suara lantang. Padahal, berhari-hari tak pernah terdengar suaranya. Tak cuma bersuara, tapi Rini kini malah sudah bergerak.
Sesuai ajakan Basri, Umara akhirnya menginap. Banyak keanehan menyertai kedatangan tamu yang mengaku dari Makassar dan pernah menetap di Karebosi ini. Misalnya ketika Basri mendengar suara seperti orang yang sedang mandi, air mengguyur ke lantai. Namun alangkah kagetnya ketika lelaki itu keluar, tubuhnya kering. Tidak basah.
Keesokan harinya Umara pamit minta pulang. Basri mengantarnya ke Pelabuhan. Seorang nakoda mengenal lelaki itu. Umara rupanya menumpang di kapal itu dari Makassar. “Motere’ ma’ anne,” ujar Umara kepada nakoda tersebut.

Kepada Basri, nakoda itu bercerita bahwa pria itu ikut di perahunya sejak di Pelabuhan Poetere. Nakoda itu sebenarnya enggan mengabulkan permintaannya. Disuruh turun, tidak mau. Karena setengah memaksa, akhirnya diikutkan juga.
Keanehan terlihat ketika jelang tiba di Kalimantan, perahu diterjang angin kencang hingga oleng. Semua orang diikat di perahu agar tidak sampai terjatuh. Tetapi lelaki itu jalan saja di atas perahu. Dia mengangkat tangannya dan berdoa. Badaipun reda. Nakoda itu heran. Siapa pria aneh ini?

Ketika ingin mencukur jenggot dan cambangnya, pisau yang digunakan tidak mempan.  Malah tidak tercabut ketika anak buah kapal mencabutinya.
Kepada Basri, Umara pernah berkata: “Punna kuciniko, teaiko tau berani. Si ke’de’ji barani nu. Tena nubarani mae angngolo ri Karaeng Alla Taala. Ikau sangnging barani lino ji, kabaraniannu tekkulleai ni pake”.  (Kalau saya lihat kamu, kamu bukan orang berani. Hanya sedikit keberanianmu. Kamu tidak berani menghadap Allah SWT. Kamu semata berani dunia saja, keberanianmu tidak bias dipakai)
Sepintas kalimat di atas menunjukkan ketinggian pengetahuan supranatural yang dimiliki seorang Umara. Tak sampai menunjukkan keakuannya, melainkan bersandar pada kekuasaan sang pencipta Allah SWT. Kalimat yang kerap digunakan oleh orang-orang arief billah, orang-orang yang sempurna keimanan dan ketaqwaannya. Orang seperti itu kerap disebut wali.

Selain membutkikan bahwa Rini kemudian sembuh dalam waktu singkat, kalimatnya yang mengatakan bahwa Basri akan balik memimpin Sulawesi Selatan, kemudian juga terbukti.

Itulah sosok misterius seorang yang mengaku bernama Umara. Sayangnya, meski kalimatnya terbukti benar, tapi Basri tak pernah bisa bertemu dengan Umara lagi. Hanya sekali itu saja, sewaktu masih di Balikpapan.
Penggalan kalimat dari episode kisah Umara dengan HZB Palaguna itu
bukanlah sekadar cerita biasa melainkan penuh muatan makna. Paling
tidak menggambarkan betapa besar keterkaitan antara Karebosi yang
tak lekang dari kisah-kisah penuh misteri (usman nukma)
Makam Datuk Paggentungang
Makam Datuk Paggentungang

Datuk Paggentungang, Shalat di Bawah Daun Pisang

MITOS — Desa Tamarunang Kec. Somba Opu, Gowa. Poros Malino 4 km dari Sungguminasa, terdapat makam ulama besar Sulawesi Selatan yang hidup pada abad ke 16. Para peziarah yang datang ke makam ini, cukup banyak berasal dari berbagai daerah. Itulah makam Datuk Ri Paggetungang.
Makam Datuk dikelilingi sejumlah makam lainnya yang merupakan makam keturunannya. Bangunan permanen yang menaungi makam Datuk berwarna putih beratap genteng merah, luas bangunan berukuran 5 x 7 m2.
Datuk bernama asli Srinaradireja bin Abd. Makmur. Tapi lebih terkenal dengan I Dato (Datuk) Ri Paggentungang. Sang Wali hidup di zaman raja Gowa ke 14. I Mangarangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin, yang merupakan Raja Gowa yang pertama memeluk agama Islam pada hari Jumat 22 September 1660, dan diislamkan oleh Khatib Tunggal Abdul Makmur (Datuk Ribandang), ulama yang berasal dari Kota Kahu, Minangkabau.
Di dalam Makam terdapat pula dua makam yag bersebelahan, makam tersebut merupakan ajudannya  bernama Karaeng Bau. Dan makam yang satunya lagi adalah makam Karaeng Subhan, surona atau pelayan Datuk.
H.Majja (69) juru kunci makam yang masih keturunan Datuk, dia meneruskan tugas ayahnya, H.Genda yang menjadi juru kunci makam Datuk. Selain itu ada pula pengurus makam lainnya, Dg. Pa’go (79), Imam Lingkungan Tamarunang, Dg. Unjung dan Dg Ramma, petugas kebersihan makam dan Dg.Lili pembaca doa.
Mereka inilah orang-orang yang tulus dan ikhlas mengurus makam Datuk. Mereka pantang meminta sedekah dari para peziarah. Kalaupun terkumpul hasil sedekah, disisihkan sebagian untuk pemeliharaan makam. Tujuannya agar para peziarah dapat merasa tenang berziarah. Mereka juga menerima baik Wartawan MITOS dengan sukacita yang bertandang ke makam Datuk.
H.Majja meyakini, selama 25 tahun menjadi juru kunci makam, tidak pernah sedikitpun mendapat bantuan dari pemerintah setempat untuk pemeliharaan makam. Padahal makam ini termasuk situs sejarah yang pantas diperhatikan dan dipertahankan keberadaannya.
Para peziarah datang dengan berbagai tujuan dan niat. Bahkan banyak juga yang sampai bernazar. Jika tujuannya berhasil mereka akan kembali dengan menyembelih kambing bahkan sampai menyembelih sapi. Yang datangpun bukan cuma masyarakat awam, tapi para caleg-caleg, pejabat pemerintah dan bahkan sampai calon bupati atau walikota. Ini juga mungkin ada kaitannya dengan pesan Datuk kepada anak-cucunya. “Jika suatu waktu kalian menemui kesusahan, maka ingatlah aya” Pesan inipun pernah dikatakan kepada muridnya, Syekh Yusuf yang masih usia 18 tahun, sewaktu akan berangkat ke
Mekah, ujar sang juru kunci makam.
Datuk datang ke Sulsel, untuk mencari ayahnya, Datuk Ribandang. Lalu dia diajak sahabatnya, Lo’mo Ri Antang untuk menetap di daerah ini, agar bisa bersama-sama melanjutkan tugas Datuk Ribandang yang telah meninggal Guru Syekh Yusuf
Sebelum Syekh Yusuf  berangkat ke Mekah, lebih dulu memperdalam ilmunya pada Datuk dan Lo’mo. Dia belajar ilmu hakiki pada dua ulama besar tersebut.
Sekali waktu, Datuk sepakat dengan Lo’mo bertemu Syekh Yusuf, untuk merencanakan perjalanan memperdalam ilmu pada wali-wali yang ada di Mangkasarak (Makassar).
Datuk berkata ; “Cucunda Yusuf, saya sudah dengar kesempurnaan ilmumu. Tapi biarpun begitu, baiknya kita bertiga mengunjungi dan menuntut ilmu pada wali-wali di tanah Mangkasarak”  jawab Yusuf, baiklah kalau nenek menghendakinya.
Setelah persediaan sudah cukup, dan ditetapkan waktu yang baik, perjalanan pun dimulai. Pertama mereka menuju gunung Bulusaraung. Dari sana mereka lanjut ke gunung Latimojong, kemudian langsung menuju ke gunung Bawakaraeng. Di gunung Bawakaraeng, mereka bertemu dengan wali-wali.  Lalu Yusuf wali-wali ; “Hai, Yusuf, sudahkah engkau dari gunung Bulusaraung dan Latimojong, lalu engkau tiba disini ?” Yusuf menjawab “Benarlah demikian sudah semua saya kunjungi. Sekarang saya berharap dianugrahi ilmu barang sedikit”.
Dan belajarlah ketiga ulama itu kepada wali-wali tersebut. Tiada berapa lama, maka sepakatlah wali-wali dan berkata : “Cukuplah sudah ilmu pengetahuanmu di tanah Mangkasarak, dan sebaiknya kamu berkunjung ketanah suci, naik haji untuk menguji tentang kecukupan ilmumu itu dan menguji pendapatmu”. Selesai wali-wali itu berkata, maka ketiganya mohon diri pulang ke negeri Gowa.
Ada cerita yang melegenda di masyarakat tentang ketinggian ilmu I Datuk Paggentungang. Menurut H.Majja, pernah suatu waktu seorang ulama datang menemui Datuk, setelah keduanya selesai mengobrol tibalah waktu shalat. Saat itulah  ada kejadian yang tak lazim saat keduanya melaksanakan shalat. Ulama itu sembahyang di atas daun pisang, sedangkan Datuk justereu sembahyang di bawah daun pisang.
Datuk menyebarkan agama Islam di kerajaan Gowa-Tallo dengan memberikan wejangan dan nasihat kepada masyarakat. Datuk bersama sahabatnya I Lomo Ri Antang, tidak bisa dipisahkan dalam hal penyebaran agama Islam dikerajaan Gowa-Tallo sepeninggal Datuk Ri Bandang (zardi/Awing)
Inilah gambar asli Syekh Yusuf. Tuanta Salamaka, paling kiri, menunjuk sesuatu diatas meja (dok : MITOS)
Inilah gambar asli Syekh Yusuf. Tuanta Salamaka, paling kiri, menunjuk sesuatu diatas meja (dok : MITOS)

Kontroversi Lukisan Syekh Yusuf

MITOS  –Kontroversi Lukisan Syekh Yusuf  Syekh Yusuf yang merupakan seorang wali dan pejuang, namanya telah termasyhur di dunia, khususnya di negara-negara Islam. Namanya yang begitu mendunia itulah, membuat banyak yang meminati sosoknya. Bukan hanya di Sulawesi Selatan yang merupakan tempat kelahirannya, tetapi juga di Banten, Madura bahkan juga hingga ke manca negara seperti Malaysia, Srilangka dan Afrika Selatan.
Karena sosoknya yang begitu dikagumi, sehingga banyak yang ingin mengetahui bentuk wajah asli dari Syekh Yusuf. Maka tersebarlah sketsa dan lukisan wajah Syekh Yusuf di tengah masyarakat, utamanya di kota Makassar.
Hampir di setiap rumah di Sulawesi Selatan, terpampang lukisan wajah Syekh Yusuf menghiasi dinding ruang tamu. Yang mengherankan adalah, hampir setiap lukisan itu tidak ada yang mirip satu sama lainnya, ada yang bertubuh besar bercambang dan berkumis lebat, dan adapula yang hanya berjenggot panjang tanpa cambang dan kumis. Setiap pemilik rumah yang di singgahi oleh tim MITOS mengatakan keyakinannya terhadap lukisan yang terpampang di rumah mereka.
“Itu lukisannya Tuanta Salamaka” ujar Dg. Se’re (36) salah seorang pemilik rumah yang disinggahi Wartawan MITOS. “Yakinka’ itu mi wajahnya Syekh Yusuf karena samai’ yang ada di Ko’bangnga (makam)”Jelas Dg. Se’re sembari menceritakan kekeramatan lukisan yang terpampang di rumahnya itu.
Kekaguman mereka terhadap sosok Syekh Yusuf yang diaktualisasikan lewat koleksi lukisannya, memang sangat baik. Akan tetapi kalau sosok yang ada di dalam lukisan itu sangat jauh dari wajah Syekh Yusuf, tentunya akan menimbulkan salah persepsi terhadap wajah Syeh Yusuf yang sebenarnya. Dampaknya sudah barang tentu akan menimbulkan salah penafsiran yang berkelanjutan hingga ke masa yang akan datang, yang bahayanya di masa akan datang akan tumbuh keyakinan yang salah kaprah terhadap wajah Syekh Yusuf.
Seperti penuturan A. Fauzi atau Oci (39) seorang pelukis lulusan Seni Rupa IKIP Makassar, ketika menyambangi Redaksi MITOS. Oci mengatakan bahwa seorang pelukis apabila mendapat order lukisan wajah pahlawan atau tokoh yang tak dikenali wajahnya, para pelukis biasanya melakukan dengan berbagai cara. Ada yzng dengan cara bertanya kepada orang-orang di sekitar lokasi makam dari tokoh tersebut, ada yang melakukan meditasi agar dapat bertemu dengan tokoh itu dalam alam ghaib, bahkan adapula yang melakukan ritual.

Pendapat Rekan Penulis (Kontroversi Lukisan Syekh Yusuf)

Khusus untuk lukisan Syekh Yusuf, menurut rekan pelukisnya bahwa itu didapati dari mimpi didatangi oleh ruh Syekh Yusuf. Adapula yang mendapatkannya dari hasil ritual meditasi gaib, sehingga bentuk dan wajah Syekh Yusuf juga berbeda-beda sesuai dengan gambaran yang didapatkan oleh pelukisnya.
Hal ini dibenarkan oleh H. Djamaluddin Paramma Dg. Djaga ketika ditemui MITOS belum lama ini di kediamannya. “Beberapa tahun yang lalu, Saya pernah melakukan seminar sehari tentang Kontroversi lukisan Syekh Yusuf yang dihadiri oleh sejumlah budayawan, serta salah seorang pelukis Syekh Yusuf.
Kesimpulannya ialah, seluruh lukisan Syekh Yusuf yang dipajang pada waktu itu semuanya lemah”. ujar Dg. Djaga. “ Bahkan yang lebih memprihatinkan lagi salah satu lukisan itu, justeru mirip dengan pelukisnya sendiri” Lanjut Dg. Djaga. Alasannya bahwa tak ada yang tahu bentuk wajah dari Syekh Yusuf, sehingga mereka melukis berdasarkan intuisi mereka sendiri. Padahal bentuk dan wajah Syekh Yusuf tersimpan rapi di kediaman salah satu keturunan Syekh Yusuf, yang merupakan juga pimpinan Tarekat Yusufiah (ajaran Syekh Yusuf), yang merupakan warisan dari buyutnya bersama Ratib Syekh Yusuf, yang dibaca setiap malam jumat. Foto itu didapatkan sewaktu Syekh Yusuf diasingkan di Colombo, Srilangka.

Salah Menafsirkan Wajah Syekh Yusuf (Kontroversi Lukisan Syekh Yusuf)

Efek dari salah penafsiran wajah Syekh Yusuf secara langsung memang tidak terasa, akan tetapi efeknya secara dalam tentu sangat mengganggu. Ini dialami oleh awak MITOS ketika mengunjungi salah satu rumah di daerah Galesong. Di rumah itu terpajang lukisan Syekh Yusuf. Pada lukisan itu digantung sebuah tasbih yang menurut pemilik rumah itu, sebenarnya tasbih biasa. Akan tetapi pernah dipinjam oleh salah satu kerabatnya dan akhirnya dikembalikan karena didatangi oleh orang dalam lukisan itu di dalam mimpi. “Kembalikan tasbihku itu ditempatnya” begitu suara itu terdengar. Padahal menurutnya, tasbih itu dipinjam baik-baik. Akhirnya si pemilik rumah mengkultuskan lukisan tersebut. Apabila yang di kultuskan itu benar adanya tentu tak mengapa karena sebagai wakil Tuhan di bumi, tentunya tubuh serta jiwanya suci dan pastinya jauh dari pengaruh setan.
Akan tetapi apabila yang dikultuskan itu hanya rekaan semata tentu sangat fatal, karena bahayanya wajah dalam lukisan itu bisa dipakai oleh setan untuk menjerumuskan manusia dalam hal akidah. Apalagi hanya sekedar untuk memenuhi order atau permintaan pemesan tanpa memikirkan nilai pahalanya. Karena yang dilukis ini adalah tokoh agama yang sudah barang tentu banyak memiliki pengikut yang fanatik.
Ada baiknya setiap lukisan Syekh Yusuf yang ditampilkan agar kiranya para pelukis dapat mencantumkan di bagian bawah lukisan dengan tulisan “Lukisan ini versi …(nama pelukis)”, supaya para peminat lukisan dapat memaklumi apabila ada kesalahan pada lukisan wajah tokoh. Jangan sampai berkeras hati untuk memegang teguh pendapatnya mengenai wajah Syekh Yusuf, apalagi hanya didapatkan dari mimpi ataupun dari meditasi. Karena Tuhan sudah mewanti-wanti itu dalam kitabNya yaitu “……..Sesungguhnya setan dan pengikut-pengikutnya, melihat kamu dari tempat yang kamu tak bisa melihat mereka……” (al-A’raaf 27) ”. Tentu sangat mudah untuk mempermainkan fikiran manusia. (ali/awing)
lukisab syeh yusuf
Inilah gambar asli Syekh Yusuf. Tuanta Salamaka, paling kiri, menunjuk sesuatu diatas meja   (dok : MITOS)

Makam Syekh Yusuf di Makassar yang Menyedihkan

Makam Syekh Yusuf di Makassar yang Menyedihkan
Makam Syekh Yusuf di Makassar yang Menyedihkan
MITOS –Makam Syekh Yusuf di Makassar yang Menyedihkan Tuanta Salamaka Syekh Yusuf, memiliki lebih dari satu makam. yang antara lain terletak di Afrika Selatan, Srilanka, Banten, Sumenep (Madura), Makamnya di Makassar sendiri terletak di Jl.Syekh Yusuf, tepat di garis perbatasan Kota Makassar dengan Kab.Gowa. Makam ini yang di Makassar inilah sekarang yang cukup menyedihkan.

Jasadnya telah dipindahkan dari kuburnya  di Afrika, jasad Syekh Yusuf dipindahkan  ke Makassar, kata juru kunci makam Tuanta Salamaka kepada Wartawan MITOS. Sedangkan di Srilanka, yang dimakamkan berupa jubah dan sorban, di Banten berupa tasbih, di Sumenep, berupa jubah dan sorban.

Makam Wali besar Sulawesi Selatan ini yang terletak di beberapa daerah tersebut, sungguh sangat dihormati, dihargai, dan sangat dijaga keberadaanya. Makam yang di Afrika, pun demikian. Selalu terjaga dengan baik.

Lantas bagaimana dengan makam Syekh Yusuf di tanah kelahirannya sendiri ? Sesungguhnya sangat menyedihkan. Selama ini, keberadaan makam ulama besar tersebut, nyaris tak mendapatkan perhatian sedikitpun dari pemerintah setempat. Buktinya, orang-orang yang berziarah ke makam Tuanta Salamaka, akan senantiasa sangat terganggu oleh kelompok-kelompok preman, yang kerjanya menguras isi dompet para para peziarah. Bahkan seorang petinggi dari Malaysia, tatkala berziarah ke makam tersebut, dompetnya jadi kosong setelah keluar dari areal makam.

Di depan makam, jalan rusak dan berlubang sepanjang  100 m, sehingga kerap menimbulkan kemacetan terutama pada waktu peziarah ramai. Jalan tersebut menghubungkan ke arah makam Raja-raja Gowa, di Sungguminasa, yang berjarak sekitar 500 m.

Peziarah Makam Syekh Yusuf (Makam Syekh Yusuf di Makassar yang Menyedihkan)

Masyarakat peziarah ke makam Syekh Yusuf, datang dari berbagai daerah, suku, keyakinan. Baik anak bayi, orang dewasa, pengantin, orang kaya, sederhana, hingga miskin, yang kesemuanya berziarah semata – mata mengharap berkah untuk tercapainya suatu keinginan dan harapan mereka dari Allah Swt.  Selain tujuan tersebut ada juga yang berziarah dengan maksud melepas seekor kambing, sebagai rasa syukur atas terkabulnya apa yang diharapkan, sebagai pelunas nazar yang pernah diucapkan di makam itu sebelumnya

Di dalam kompleks makam, ada  perpustakaan  yang  terkesan tidak terpakai lagi. Menurut warga sekitar makam, perpustakaan tersebut akan dibuka bila ada permintaan. Maka dengan meminta kepada seseorang yang dipercaya merawat perpustakaan itu akhirnya Wartawan MITOS bisa menyaksikan isi perpustakaan, yang ternyata memang tidak terawat lagi.

Isi perpustakaan yang ada disitu tidak satupun buku tentang sejarah Syekh Yusuf dan kerabatnya yang dimakamkan di kompleks makam. Jangankan buku, gambar Syekh Yusuf  yang banyak beredar, tidak satupun yang terpajang di dalam ruangan. Sedangkan buku-buku yang dapat dijumpai disitu hanya sejarah tentang daerah-daerah yang ada di Sulawesi Selatan, dan pajangan boneka dengan pakaian muslim.

Didepan gerbang makam tampak seorang yang berpakaian seragam Satpam yang dikelilingi oleh orang-orang yang tak jelas apa tugasnya, sehingga sering kali membingungkan peziarah.

Orang-orang tersebut berlomba menawarkan jasa kepada peziarah.

“Sayapi antarki pak, bayarmaki retribusi sama saya”. desak mereka kepada peziarah. Bila memasuki areal makam mereka juga minta ongkos parkir sepatu. Tidak. Padahal di seputar makam tidak ada  lemari penitipan, seperti yang terdapat pada Mesjid Lakiung tepat disebelah kompleks makam.

Menurut beberapa peziarah yang sempat ditemui BugisPos,  berharap agar makam tersebut  ditertibkan  dan dilengkapi sarana penunjang, baik dari yayasan yang dipercaya mengelola makam maupun pemerintah, supaya kondidi makam ini tidak semakin kacau.
Tujuan peziarah ke makam ini,

Jualan Bunga (Makam Syekh Yusuf di Makassar yang Menyedihkan)

Hasil pantauan Wartawan BugisPos, di seputar makam Syekh Yusuf, masyarakat yang mencari nafkah disitu,  terbagi menjadi beberapa kelompok mata pencaharian. Ada yang menawarkan bunga dan perlengkapannya kepada para peziarah. Pekerjaan ini sangat membantu para peziarah yang tidak membawa perlengkapan untuk berziarah, cuma tidak sedap dipandang mata karena mereka saling berebutan untuk mendapatkan pembeli. Ketika BugisPos menanyakan kepada salah satu dari mereka, mereka menjawab dengan enteng dan tanpa ragu-ragu.  “Ini masalah perut pak ! yang tidak bisa ditawar-tawar lagi karena susahnya mencari pekerjaan”. “Tinggal ma ko, tak dapat ma ki pembeli, kodong”. kata seorang ibu yang berjualan tepat di depan kompleks makam. “Rata-rata penghasilan bersih itu berkisar Rp. 20.000 per hari, pokoknya cukup mi untuk makan sekeluarga”. jelas seorang ibu yang tak mau menyebut namanya ini.

Dulu didepan makam berjejer dengan rapi lods-lods penjual bunga, Cuma karena dianggap merusak pemandangan makam serta menghambat lalu lintas kendaraan, akhirnya mereka dilarang dan lods yang   ada dibersihkan dari depan makam.
Ada juga kelompok yang berada di  depan gerbang makam sampai depan pintu masuk. Mereka terdiri dari beberapa orang sambil mendampingi security yang lagi bertugas mereka juga menganjurkan para peziarah untuk mengisi celengan yang ada didepan mereka sembari menawarkan jasa untuk mengantar  masuk ke makam, ada juga yang menjaga alas kaki peziarah dengan mengharapkan upah.  Namun semua itu terkesan seperti pemalakan, karena meminta langsung retribusi dengan ketentuan yang sudah mereka tetapkan. Setelah para peziarah keluar dari makam mereka meminta lagi untuk penjagaan alas kaki tadi. Selain itu mereka juga berebut memintah sedekah, sehingga kerapkali merubah suasana menjadi ribut.

Di dalam makam juga terdapat beberapa orang yang melakukan hal yang serupa dengan kelompok kedua tadi, karena para peziarah yang berkunjung selain memasukkan sedekah berupa uang kedalam celengan yang sudah disediakan, terdapat juga orang yang langsung memintah sedekah dengan dalih bahwa mereka membantu mengangkat tangan dalam berdoa untuk mengminkan, agar doa terkabul, sehingga secara otomatis tangan yang tadinya berdoa seketika itu juga berubah posisi menjadi tangan pengemis.
Beberapa peziarah menceritakan pengalamannya kepada BugisPos. Saat peziarah berdo’a, mereka juga para premam ini ikut berdo’a. Selesai memanjatkan doa, sekejap tangan mereka dijulurkan meminta sedekah pada peziarah. Ada juga yang ziarah dengan membawa uang beberapa lembar uang 100 ribuan,  tetapi betapa kaget sambil tertawa karena merasa lucu, sebab uang dalam dompet tersebut tidak tersisa selembarpun.
Dengan kondisi seperti ini, belakangan ini masyarakat makin resah. Bahkan banyak yang berniat menziarahi makam Tuanta Salamaka tersebut, tapi urung karena kondisi kompleks makam yang semakin kacau.

  1. Rimba Alam Pangerang, Kadis Parawisata dan Kebudayaan Kab. Gowa ketika ditemui Wartawan BugisPos di ruang kerjanya, terkesan pasrah dengan keadaan yang terjadi di makam Syekh Yusuf.
“Memang sudah begitu keadaannya. Mau diapakan lagi” kata  Rimba Alam Pangerang, yang juga menjadi salah seorang pengurus Yayasan Syekh Yusuf, yang membidangi masalah pendidikan.
Menurut Rimba, Pemkab Gowa pernah menempatkan Satpol PP untuk menertibkan makam, tapi kenyataannya mereka sebagai aparat  juga tak dapat bertahan lama disitu, karena masyarakat di sekitar makam melakukan perlawanan. Sejak kecil hingga dewasa mereka memang sudah disitu” keluh Kadis
Makam Syekh Yusuf, kata Rimba,  dikelola langsung oleh Yayasan Syekh Yusuf, Dinas Parawisata dan Kebudayaan Gowa hanya melakukan koordinasi saja. Kata Rimba, namun dia tak memberi jawaban memuaskan tentang solusi yang tepat untuk mengatasi kesemrawutan di makam tersebut, yang merupakan cagar budaya yang harus dipeliharan karena dilindungi Undang-undang.
Apakah memang Pemkab Gowa tutup mata dengan keadaan ini, ataukah mereka memang tak mampu untuk mengurusnya ? Tak ada jawaban pasti (ali/awing)
Untitled
MITOS —Sang Pendakwah Lintas Benua Diasingkan ke Sri Lanka dan Afrika Selatan oleh pemerintah Belanda yang saat itu menjajah Indonesia, tak membuat Syekh Yusuf Al-Makassari berhenti berdakwah. Berikut kisah ulama asal Gowa, Sulawesi Selatan ini.
Syekh Yusuf Al-Makassari memiliki nama lengkap Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari Al-Bantani. Menurut catatan wikipedia, dia lahir di Gowa, 3 Juli 1626. Namun, sumber lain menyebut Syekh Yusuf lahir 13 Juli 1627.
Syekh Yusuf lahir dari pasangan Abdullah dan Aminah. Ketika lahir ia diberi nama Muhammad Yusuf. Nama tersebut diberikan Sultan Alauddin, raja Gowa, yang juga kerabat ibu Syekh Yusuf.
Pendidikan agama diperolehnya sejak berusia 15 tahun di Cikoang, saat ini masuk wilayah Kecamatan Mangara Bombang, Kabupaten Takalar, Sulsel. Di situ, dia belajar dari Daeng Ri Tassamang, guru Kerajaan Gowa.
Syekh Yusuf juga berguru pada Sayyid Ba-Alawi bin Abdul Al-Allamah Attahir dan Sayyid Jalaludin Al-Aidid. Kembali dari Cikoang, Syekh Yusuf menikah dengan putri Sultan Gowa. Lalu, pada usia 18 tahun, Syekh memulai pengembaraannya.

Sang Pendakwah Lintas Benua

Syekh Yusuf pernah singgah di Banten dan bertemu serta akhirnya bersahabat dengan Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Banten yang terakhir. Syekh Yusuf juga pernah singgah di Aceh sebelum kemudian melanjutkan perjalanan menuju Gujarat.
Di Gujarat inilah dikabarkan Yusuf sempat bertemu dengan Syekh Nuruddin Ar-Raniri, salah seorang penasihat Sulthanah Shafiyatuddin, raja perempuan Aceh. Syekh Nuruddin Ar-Raniri adalah negarawan, ahli fikih, teolog, sufi, sejarawan, dan sastrawan penting dalam sejarah Melayu pada abad ke-17.

Pendapat Syekh Nutudin AR Raniri Ketika Bertemu di Aceh

Beberapa pendapat menyatakan bahwa Yusuf bertemu dengan Syekh Nuruddin Ar-Raniri ketika Yusuf singgah di Aceh. Hal ini didasarkan pada pendapat yang menyatakan bahwa Syekh Nuruddin Ar-Raniri meninggal dunia pada 22 Dzulhijjah 1069 H/21 September 1658 M di Aceh.
Pada masa-masa sebelum 1658 inilah Yusuf bertemu dengan Syekh Nuruddin Ar-Raniri di Aceh. Dari Syekh Nuruddin Ar-Raniri inilah Yusuf belajar dan mendapatkan ijazah Tarekat Qodiriyah.
Dari Aceh, Yusuf kemudian bertolak ke Gujarat, Yaman, Damaskus (Suriah) hingga akhirnya ke Makkah dan Madinah. Selama 20 tahun lebih berkelana, ia telah menamatkan pelajaran dari tak kurang 17 guru terkenal, mulai dari tarekat Naqsyabandiyah, Syatariyah, Qadiriyah, hingga Khalwariyah yang kemudian bahkan lekat dengan namanya.
Selesai menimba ilmu, Syekh Yusuf kembali ke Nusantara. Konon, ia tidak kembali ke Gowa, tetapi ke Banten dan bertempat tinggal di wilayah kerajaan yang saat itu dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa.
Di Banten, sekitar tahun 1670 Syekh Yusuf diangkat menjadi mufti (penasihat spiritual) dengan murid dari berbagai daerah, termasuk 400 orang asal Makassar yang dipimpin oleh Ali Karaeng Bisai.

Kedalaman ilmu yang dimiliki Syekh Yusuf menjadikan dia begitu cepat terkenal. Banten pun dikenal sebagai pusat pendidikan Islam. Banyak orang berdatangan dari berbagai penjuru negeri untuk belajar kepada Syekh Yusuf.

Sang Pendakwah Lintas Benua

Selain ilmu-ilmu syariat, Syekh Yusuf juga mengajarkan murid-muridnya ilmu beladiri untuk berjuang bersama melawan penjajah Belanda. Maka, tak heran banyak di antara para pendekar di Kesultanan Banten adalah murid Syekh Yusuf. Mereka dikenal kebal terhadap senjata, sehingga membuat pasukan Belanda khawatir.
Singkat cerita, Belanda mencari cara untuk menaklukkan Kesultanan Banten. Beragam cara dilakukan, antara lain mengadu domba keluarga Sultan. Ketika pasukan Sultan Ageng dikalahkan Belanda tahun 1682, Syekh Yusuf turut terlibat dalam perang gerilya. Namun, pada tahun ini juga Syekh Yusuf ditangkap oleh Belanda.
Awalnya, Syekh Yusuf ditahan di Cirebon kemudian dipindahkan ke Batavia (Jakarta). Karena pengaruhnya yang begitu besar dianggap membahayakan kompeni Belanda, Syekh Yusuf keluarga kemudian diasingkan ke Sri Lanka pada 1684. Kedua istri dan beberapa anak Syekh Yusuf, 12 murid, dan sejumlah perempuan pembantu ikut diasingkan.

Dakwah Syekh Yusuf Di srilanka

Di Sri Lanka, Syekh Yusuf banyak melakukan dakwah dan penyebaran Islam. Muridnya pun banyak, kebanyakan dari India. Salah satunya, ulama besar India, Syekh Ibrahim ibn Mi’an.
Melalui jamaah haji yang singgah ke Sri Lanka, Syekh Yusuf terus berkomunikasi dengan para pengikutnya di Nusantara. Belanda khawatir dampak dakwah agama Syekh Yusuf akan berpengaruh buruk bagi keberadaan dan politik Belanda di Nusantara.
Karena itu, Syekh Yusuf dijatuhi hukuman mati. Namun, hukuman mati terhadap Syekh Yusuf diprotes oleh Raja Alamghir di India dan Raja Makassar Abdul Jalil (1677-1709). Akhirnya, hukuman mati diubah menjadi pembuangan seumur hidup.l di sana dan kemudian menikah lagi dengan putri Sultan Agen Dzikry Subhanie.
Sabtu,  23 Mei 2015  −  05:00 WIB….
Maka, diputuskanlah bahwa Syekh Yusuf diasingkan ke Afrika Selatan. Tiba di Cape Town pada tanggal 2 April 1694 pukul 15.00 waktu setempat bersama rombongan (49 orang), Syekh Yusuf langsung diantar masuk ke dalam Kasteel (benteng). Salat Magrib pertama dilakukan dalam benteng tersebut.
Di Afrika Selatan, Syekh Yusuf membangun permukiman di Cape Town yang sekarang dikenal sebagai Macassar. Dia pun dikenal sebagai orang pertama yang menyebarkan Islam di Afrika Selatan.
Pada tanggal 23 Mei 1699, Syekh Yusuf wafat dan dimakamkan di Faure, Cape Town. Atas permintaan Sultan Gowa Sultan Abdul Djalil, tulang belulang Syekh Yusuf dibawa kembali ke Tanah Air dan dimakamkan kembali di Lakiung, Sulawesi Selatan pada 6 April 1705.
Masyarakat di dua tempat itu, Macassar dan Lakiung, tetap yakin bahwa jasad Syekh Yusuf dimakamkan di dua tempat itu. Maka, makamnya pun ramai diziarahi.

Atas jasa-jasanya, Syekh Yusuf dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 071/TK/Tahun 1995 tertanggal 7 Agustus 1995.
Tak cuma itu, pada 2005, Syekh Yusuf juga diberi penghargaan Oliver Thambo, yakni penghargaan sebagai Pahlawan Nasional Afrika Selatan. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki, kepada tiga ahli warisnya, disaksikan Wakil Presiden RI M Jusuf Kalla (*)
Sumber :
1. wikipedia.org
2. Buku Jejak-Jejak Pengasingan Para Tokoh Bangsa, penulis A Faidi, penerbit Saufa.
3. pahlawancenter.com 
(SINDO Mei 2013)
illustrasi ziarah kubur
illustrasi ziarah kubur
Di sejumlah tulisan di Majalah MITOS Makassar, cukup banyak yang brsangkut paut dengan makam atau kuburan. Nah, dalam kaitan kuburan inilah seringkali banyak di antara masyarakat kita yang sedemikian mudahnya mencap orang lain melakukan tindakan musyrik.

Ada-ada saja ucapan yang selalu dikaitkan dengan istilah musyrik. Bahkan banyak di antara penceramah kita seringkali dengan mudahnya menuduh-nuduh orang berbuat musyrik. Datang ke makam para ulama yang sudah meinggal misalnya, seringkali dituding musyrik lantaran curiga orang yang berziarah itu datang meminta pertolongan kepada ruh sang ulama. “Itu musyrik” kata mereka di antara penceramah kita dengan sangat yakin.

Benarkah orang-orang yang datang ziarah ke makam para ulama itu musyrik adanya ?


Itu belum tentu. Sebab itu sangat tergantung pada orang yang berziarah itu sendiri, bukan ditentukan oleh penceramah itu tadi.


Bila seseorang datang ziarah ke makam para ulama, biasanya mereka datang membacakan surah al fatihah. Kiriman al fatihah ini adalah surah yang sangat bermakna bagi ruh manusia, sebagai makanan para ruh. Hanya memang ada juga orang yang datang meminta sesuatu, misalnya perjodohan kepada orang sudah mati di kuburan itu. Nah itu dia yang masuk urusan musyrik. Tetapi bila tunjuannya minta kepada ruh ulama tersebut agar dodoakan kepada Tuhan agar dimudahkan jodohnya, maka itu bukanlah perbuatan musyrik. Sebab musyrik itu adalah tindakan menduakan Tuhan. Padahal dalam Islam diakui tiada Tuhan selain Allah SWT — Redaksi
Bungung Lompoa ri Antang (Sumur besar di Antang)
Bungung Lompoa ri Antang (Sumur besar di Antang)

Tongkat Ditancap Air  pun Memancar

MITOS — Di Sulawesi Selatan, ada sejumlah sumur yang punya sejarah mistis, seiring dengan Sebuah sumur tua, terletak Antang, kec.Manggala, Makassar, tak jauh dari  kompleks pemakaman ulama besar abad ke 16, I Lo’mo Ri Antang, di bilangan Jl.Antang Raya. Sumur itu popular disebut Bungung Lompoa, atau sumur besar. Artinya, sumur ini punya nilai kebesaran, sebab sepanjang musim hujan dan musim kemarau, airnya tetap saja normal, jernih, dan segar.
Dalam sejarah peradaban masyarakat Antang dan sekitarnya, sumur itulah menjadi sumber mata air terbesar dan kesohor di seluruh negeri.

Siapa yang menggali sumur tersebut ?

Alkisah, kawasan Antang pada abad ke-16, mengalami musim kemarau  yang sangat panjang, sehingga untuk mengambil air wudhu saja sangat sulit. Suatu hari, Lo’mo terlihat berdo’a, minta petunjuk kepada Allah untuk mengatasi kesulitan air bagi masyarakat.
Lalu dia berjalan dari rumahnya ke arah barat. Tak jauh dari rumah,  Lo’mo singgah di tempat yang agak berbatu. Di situ dia berdo’a pula, lalu menancapkan tongkat kayu yang dipegangnya kedalam tanah. Setelah mencabut tongkat itu, serta-merta dari kubang bekas tongkat memancar air bersih dan menyegarkan. Dari pancaran air pertama kali, Lo’mo mengambil air wudhu, dan seterusnya sumur itu menjadi sumber air bagi masyarakat Antang dari abad kea abad.

Sumur itu sekarang masih digunakan oleh masyarakat umum untuk keperluan sehari-hari. Selain itu air sumur tersebut digunakan untuk mencuci benda-benda peninggalan dari Lo’mo.

Wali yang merupakan putra asli Sulawesi yang menjadi sahabat Datuk Paggentungan dan guru Syekh Yusuf ini, selain telah mewariskan ajaran agama, juga mewariskan sumur yang tak pernah kering sepanjang abad, yang dibuatnya hanya dengan menancapkan tongkat satu kali ke dalam tanah. Wali yang kemudian nyaris terlupakan (zardi/awing)
Kantor Koperasi Istiqomah, desa Tungka kab. Bone
Kantor Koperasi Istiqomah, desa Tungka kab. Bone
MITOS —  Beginilah kelakuan mahluk gaib dari kalangan Jin yang selalu bikin merinding. hal ini terjadi pada salah satu Unit Usaha Koperasi Istiqomah yang terletak di jalan poros camming, Desa Tungke, Kecamatan Bengo, Kabupaten Bone. Dimana hampir setiap hari tanpa mengenal waktu, namun kebanyakan terjadi di siang hari saat karyawan bekerja, sehingga para karyawan menjadi bertanya-tanya ada fenomena apa sebenarnya di koperasi ini.
Seperti dialami oleh Muchlis (32), seorang pimpinan di koperasi itu , dimana pada pagi hari saat membuka pintu kantornya, sering kali mendapati televisi dan kipas secara bersamaan menyala dengan sendirinya, hingga tidak mengerti dengan kejadian tersebut, pasalnya sewaktu pulang kemarin, sebelumnya telah mematikan semua perangkat elektronik yang ada di kantor tersebut.
Begitupun yang dialami oleh Fatmawati (25), salah seorang karyawan di tempat itu, senantiasa mendapati mesin Scanner bekerja dengan sendirinya, serta berkali-kali berbagai barang jualan yang ada secara tiba-tiba pada berjatuhan tanpa ada yang menggoyangkannya. Bahkan saat sementara dikonfirmasi oleh MITOS, sabtu, 24/10/2015  di siang hari, sehabis istirahat makan siang, telah menemukan televisi, kipas dan scanner yang ada di kantornya menyala dengan sendirinya padahal sebelum keluar untuk makan siang semua perangkat elektronik telah ia matikan, hal itu terjadi saat ditanyakan oleh wartawan tentang reaksi Fatma saat berhadapan kondisi seperti itu ?, belum juga dijawab, tiba-tiba terjadi bersamaan dan dibarengi barang jualan dibagian belakang berhamburan jatuh kelantai hingga sontak membuatnya teriak dan ketakutan.
“Waaduuhh, maaf, kagetka pak, baruka tiba ini dari makan siang di luar, belumpika duduk baik, na kayak final destination saja ini kantor ee, tiba-tiba televisi menyala sendiri, kipas berputar sendiri, barang-barang juga ikut berhamburan “, ucapnya sembari meminta tolong agar jin penghuni koperasi tersebut ditenangkan.
Menurut bapak Lanco (70), yang merupakan kepala kampung sekaligus orang pintar dalam hal gaib dan diyakini oleh masyarakat setempat, menjelaskan bahwa diawal beroperasinya koperasi tersebut, salah seorang pengelola koperasi yang bernama ibu St. Hafsah (45), menyampaikan kepadanya bahwa ia beserta seluruh keluarganya mengalami suatu penyakit yang aneh dimana saat buang air besar, kotorannya berair dan mengeluarkan gumpalan darah dan itu terjadi secara terus menerus hingga membuat mereka sekeluarga masuk rumah sakit. Dan itu dianggap cuma sekedar teguran olehnya.
Serta dari penerawangannya, ” pengelola koperasi belum meminta izin kepada penghuni gaib, juga salah satu siku bangunannya mesti dirubah karena menghalangi jalan yang selalu dilalui para penghuni yang berada di daerah itu “, tutupnya.
Menurut tim gaib rubrik Mitos, ditempat itu berdiam kerajaan mahluk gaib yang menguasai tempat itu. Solusinya, dibutuhkan paranormal untuk menetralisir tempat tersebut.
Hasil konfismasi Wartawan MITOS, sampai saat ini kantor koperasi tersebut masih dijaga mahluk halus. Siapa berani ?  Ali.

mind

Categories

Visitors

Sample Text

Flag Counter







Fanspage

Popular Posts