Thursday, August 18, 2016

Daun dan buah Sanrego
Daun dan buah Sanrego
MITOS – Di kalangan lelaki Bugis, Sulawesi Selatan, ada sejenis kepercayaan terhadap salah satu jenis kayu yang banyak tumbuh di hutan, yakni kayu Snrego. Jenis kayu ini diyakini mampu menambah vitalitas kaum lelaki di daerah Bugis, terutama dipercaya di kalangan lelaki Bugis Bone.
Dikutip dari Bone.com, masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan punya cara sendiri menghalau potensi disharmonisasi rumah tangga karena persoalan ranjang. Orang Bugis memiliki Kayu Sanrego yang diyakini mampu menambah ‘daya gedor’ laki-laki hingga tahan beberapa ‘ronde’.
Kayu Sanrego dalam bahasa latin disebut dengan Lunasia Amara Blanco termasuk jenis tumbuhan semak belukar dan umumnya tumbuh di atas tanah yang berbatu. Menurut Andi Baso, pemerhati budaya Bone, Kayu Sanrego diketahui banyak tumbuh di daerah selatan Kabupaten Bone. “Kayu Sanrego itu ada di daerah selatan Bone, di Kecamatan Kahu, di Desa Sanrego namanya,” ungkap Andi Baso pada GoSulsel.com via telepon seluler.
Kayu Sanrego, lanjut Andi Baso, sebenarnya mengandung antibiotik dengan kadar tinggi yang bisa memulihkan dan menjaga daya tahan tubuh. Antibiotik itu pula yang diduga bermanfaat memperlancar aliran darah yang terpompa ke seluruh bagian tubuh, termasuk alat vital laki-laki.
“Kayu Sanrego itu banyak mengandung antibiotik. Nah, kandungan antibiotik itupula yang bisa menjaga daya tahan tubuh dan melancarkan aliran darah orang yang meminumnya,” terangnya.
Andi Baso menceritakan sejarah Kayu Sanrego yang tersohor ini. Ia mengatakan bahwa pada awalnya, Kayu Sanrego ditemukan oleh masyarakat secara tak sengaja. Saat itu, seekor kuda jantan milik Arung Sanrego terlihat sering menggigiti kulit dari batang Kayu Sanrego sebelum kawin dengan kuda betina. Konon katanya, kuda jantan itu bisa tahan berjam-jam dalam ‘aksinya’.
Melihat itu, masyarakat lalu ikut mencoba kulit Kayu Sanrego yang direbus terlebih dahulu. Air rebusan itu lalu diminum sebelum berhubungan ranjang dengan pasangannya. Alhasil, orang tersebut mencapai kepuasan maksimum di atas ranjang.
“Jadi ceritanya dulu itu ada orang yang lihat kuda yang makan kulit Sanrego sebelum kawin. Ternyata pas kawin, kuda itu kuat. Nah masyarakat lalu mencobanya juga dan meyakini khasiat Sanrego,” kisah Andi Baso.
Andi Baso menyebutkan ciri-ciri morfologi Kayu Sanrego. “Pertama Kayu Sanrego itu sebuah pohon yang berbatang lurus, berdaun lancip, buahnya kecil kayak kersen, umumnya tumbuh di bebatuan, dahannya sebesar lengan orang dewasa dan memiliki akar tunggang. Lalu ukuran tinggi pohonnya itu tiga sampai 4 meter,” sebutnya.
Bagian pohon Kayu Sanrego yang paling berkhasiat adalah batang kayu dan akarnya. “Yang paling bagus itu bagian batangnya dan akarnya terutama,” bebernya.
Namun, kebanyakan orang kini menganggap bahwa Kayu Sanrego sama dengan kayu pasak bumi. Meski, keduanya pada kenyataannya berbeda. “Sekarang orang bilang Kayu Sanrego itu sama kayak kayu pasa bumi, tapi sebenarnya berbeda,” ucap pemerhati budaya yang menetap di Kota Watampone ini.
Dalam perbincangan jarak jauh itu, Andi Baso mengungkap bahwa Bapak Proklamator Kemerdekaan Indonesia, Soekarno, pernah mencoba khasiat Kayu Sanrego ini. Kala itu, Soekarno dihadiahi Kayu Sanrego oleh Raja Bone terakhir.
“Soekarno saja pernah coba Kayu Sanrego, dan itu terbukti ampuh menurutnya,” tutup Andi Baso. darna
Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

mind

Categories

Visitors

Sample Text

Flag Counter







Fanspage

Popular Posts