
Di sejumlah tulisan di Majalah MITOS Makassar, cukup banyak yang brsangkut paut dengan makam atau kuburan. Nah, dalam kaitan kuburan inilah seringkali banyak di antara masyarakat kita yang sedemikian mudahnya mencap orang lain melakukan tindakan musyrik.
Ada-ada saja ucapan yang selalu dikaitkan dengan istilah musyrik. Bahkan banyak di antara penceramah kita seringkali dengan mudahnya menuduh-nuduh orang berbuat musyrik. Datang ke makam para ulama yang sudah meinggal misalnya, seringkali dituding musyrik lantaran curiga orang yang berziarah itu datang meminta pertolongan kepada ruh sang ulama. “Itu musyrik” kata mereka di antara penceramah kita dengan sangat yakin.
Benarkah orang-orang yang datang ziarah ke makam para ulama itu musyrik adanya ?
Itu belum tentu. Sebab itu sangat tergantung pada orang yang berziarah itu sendiri, bukan ditentukan oleh penceramah itu tadi.
Bila seseorang datang ziarah ke makam para ulama, biasanya mereka datang membacakan surah al fatihah. Kiriman al fatihah ini adalah surah yang sangat bermakna bagi ruh manusia, sebagai makanan para ruh. Hanya memang ada juga orang yang datang meminta sesuatu, misalnya perjodohan kepada orang sudah mati di kuburan itu. Nah itu dia yang masuk urusan musyrik. Tetapi bila tunjuannya minta kepada ruh ulama tersebut agar dodoakan kepada Tuhan agar dimudahkan jodohnya, maka itu bukanlah perbuatan musyrik. Sebab musyrik itu adalah tindakan menduakan Tuhan. Padahal dalam Islam diakui tiada Tuhan selain Allah SWT — Redaksi

