Monday, October 10, 2016

gadis cantik raja gowa pertama

repro : makassarpost.com – illustrasi
MITOS – Sebelum Kerajaan Gowa terbentuk, di daerah yang terletak antara Sungai Je’neberang dan Sungai Tallo (sekarang, bagian dari wilayah Kabupaten Gowa dan Kota Makassar) terdapat 9 (sembilan) buah kampung yang didiami oleh penduduk yang dikenal sebagai Tu Gowa atau Tu Mangkasara, yaitu Tombolo, Lakiung, Saumata, Parang-parang (Parangtambung?), Data, Agang Je’ne (Pacci’nongang?), Bisei, Sero’, dan Kalling (Kassi?).
gadis cantik raja gowa pertama, Kampung-kampung tersebut merupakan kerajaan-kerajaan kecil yang berdiri sendiri dan diperintah/dipimpin oleh seorang raja yang disebut juga sebagai Kasuwiyang atauGallarrang dengan panggilan/gelar kehormatan sebagai Daengta/Kare (Karaeng). Perkembangan selanjutnya, kesembilan kerajaan kecil itu bersepakat menggabungkan diri sehingga menjadi “semacam kerajaan federasi.”
Berhubung status dan kedudukan mereka sama, maka kesembilan raja dari kerajaan kecil yang berfederasi tersebut mengangkat seorang “penengah” yang disebut Paccalaya. Dia bukan raja, tetapi dia bertugas memberi kata putus jika terjadi perselisihan di antara kesembilan raja dari kerajaan-kerajaan kecil tersebut. Entah berapa lama setelah “federasi” kesembilan kerajaan kecil itu terbentuk, datanglah serangan dari kerajaan-kerajaan kecil yang ada di sebelah selatan Sungai Jeneberang, yakni Garassi, Untia, dan Lambengi yang menyebabkan terjadinya  peperangan di antara ke dua belah pihak.
Meskipun pada akhirnya, peperangan itu dimenangkan oleh kesembilan kerajaan yang berfederasi tersebut, namun mereka mengalami kerugian yang tidak sedikit. Kerugian yang paling mereka rasakan adalah menurunnya kekuatan dan vitalitas kerajaan mereka. Itulah sebabnya sehingga segera setelah peperangan berakhir, timbullah keinginan Paccallaya bersama kesembilan raja dari kerajaan-kerajaan kecil tersebut untuk lebih mempererat lagi ikatan kerjasama di antara mereka. Untuk itu, diadakanlah perundingan.
Dalam perundingan itu, mereka sepakat untuk melebur negeri mereka ke dalam satu kerajaan, yang kemudian dikenal sebagai “Kerajaan Gowa.” Persoalan kemudian timbul, ketika pembicaraan mereka sampai kepada penentuan, siapa di antara mereka yang akan diangkat menjadi raja. Oleh karena status dan kedudukan mereka sama, maka tidak seorang pun di antara mereka ¾ termasuk paccallaya ¾ yang bersedia menjadi raja.
Demi mengharapkan kekuatan dan kemajuan yang lebih pesat di kemudian hari, mereka rela menanggalkan kedudukannya sebagai raja, untuk selanjutnya hanya menjadi “Dewan Kerajaan” yang disebut Kasuwiyang/Bate Salapanga, sekaligus sebagai Gallarrang (raja bawahan) atas wilayahnya masing-masing, yang telah diintegrasikan ke dalam kerajaan Gowa. Untuk itu maka sepakatlah mereka memohon kepada Rewata (Batara Se’re-se’rea=Allah Rabbul Alamin) agar berkenan “menurunkan” kepada mereka seorang yang akan diangkat menjadi raja.
Tidak berselang lama setelah perundingan tersebut, tersebarlah berita bahwa di suatu tempat yang bernama Taka’ Bassia (wilayah Tombolo), ada seorang perempuan yang masih muda belia, gadis cantik jelita, memakai pakaian yang sangat bagus dan perhiasan, berupa dokoh (kalung emas) yang sangat indah. Oleh karena masyarakat umum tidak mengetahui siapa dan darimana asal-usul orang itu, maka mereka menyatakannya sebagai “Tu Manurung” (orang yang turun dari langit).
Menurut “ingatan kolektif“ keluarga Bate SalapangaTu Manurunga adalah anak dari Gallarrang Tombolo. Itulah sebabnya sehingga dalam Pangngadak-kanga ri Gowa terdapat suatu ketentuan yang menyatakan bahwa “punna parallui Gallarrang Tombolo ri Sombaya, nirongrongi manna matinro, mingka punna Sombaya parallu ri Gallarrang Tombolo, nitayangi pambangunna.” Mengapa demikian? Karena Tu Manurung, meskipun telah menjadi raja, statusnya tetap anak dari Gallarrang Tombolo.   Mungkin itu pulalah sebabnya, sehingga satu-satunya Kasuwiyang-/Bate Salapanga yang tidak pernah mengalami perubahan status sejak terbentuknya Kerajaan Gowa hingga berubah menjadi Kabupaten Gowa adalah Tombolo (*)
Sumber :  makassarpost.com – Mustari Bosra, dalam buku Sulawesi Selatan Tempo Doeloe, 2015).
Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

mind

Categories

Visitors

Sample Text

Flag Counter







Fanspage

Popular Posts