
MITOS –Prajurit yang Dikutuk, Hampir di seluruh pelosok daerah di Indonesia boleh dibilang memiliki cerita misteri yang bahkan sampai sekarang ini tak pernah bisa dijelaskan secara ilmiah. Hal ini tentu karena misteri ini adalah merupakan rahasia alam semesta sebagai tanda kebesaran Tuhan Maha Pencipta yang di lakangan Islam disebut Allah SWT.
Di Buton Sulawesi Tenggara, ada sebuah danau yang menjadi tempat hidup bagi udang merah yang dikeramatkan warga setempat. Danau yang menjadi rumah udang merah ini berukuran sekitar 70×25 m, terletak di dekat Pantai Koguna di Desa Mopano, Kecamatan Lasalimo Selatan. Danau itu menjadi habitat bagi udang merah yang dianggap sakral oleh warga setempat.
Udang Merah yang Dikeramatkan di Buton
“Udang merah ini ditemukan sejak tahun 1971. Ini danau adalah tempat bersemayamnya udah merah. Kenapa udang ini merah? Dari orang-orang tua kita tanyakan itu memang sejak mereka temukan sudah merah. Tempat ini memang dianggap sakral,” ungkap Juriadin, Camat Lasalimo Selatan kepada detik.com
Ukuran udang yang tinggal di danau ini tidak terlalu besar dan warnanya benar-benar merah seperti cabai. Udang yang sama persis pun cukup sulit ditemukan di tempat lain. Spesies udang ini juga berkembang biak secara alami di danau, tanpa campur tangan manusia.
Juriadin mengatakan bahwa tidak ada yang tahu pasti dari mana udang merah itu berasal, serta kenapa tidak ada spesies hewan lain yang hidup bersama udang tersebut di danau. Baik warga setempat ataupun turis yang datang juga tidak disarankan untuk berenang bersama di danau, apalagi menyantap udang merah.
“Ini juga tidak bisa kita makan. Pernah dicoba ada yang makan, bentol-bentol, sudah hampir sekarat. Sejak saat itu ketika kita komunikasikan dengan para orang tua itu tidak bisa (dimakan-red). Pamali kata orang sini,” jelas Juriadin.
Udang merah pun tidak boleh seenaknya di bawa pergi dari danau. Selain karena udang tersebut tidak bisa hidup terlalu lama di luar habitatnya, ditakutkan akan ada bahaya yang menimpa jika sembarangan mengambil udang. Jadi harus izin dulu dengan para tetua desa kalau ingin membawa hewan merah itu.
“Ketika baru-baru ini kita adakan pameran untuk mengekspos udang merah, kita minta orang tua dulu untuk pamit pinjam udang merah. Lalu kemudian kita ekspos, kita perkenalkan ini udang merah dari Desa Mopano. Selama tujuannya bagus itu tidak apa-apa,” kata pak camat ini.
Kalau udang yang dipinjam mati, peminjamnya pun harus tetap mengembalikan bangkai udang merah ke dalam danau. Tidak boleh dibuang di lokasi selain danau.
Udang merah yang unik ini rupanya telah menarik perhatian banyak ilmuwan untuk datang langsung meneliti hewan tersebut. Sehingga bisa diperoleh informasi ilmiah yang lebih lengkap mengenai ada kandungan apa di dalam udang merah itu dan bagaimana asal usulnya.
“Ini secara ilmiah sudah ada peneliti dari luar negeri. Hanya hasilnya sekarang kita belum tahu,” tuturnya.
Selama di danau, wisatawan memang tidak boleh berenang atau membawa pulang udang merah. Tapi diperbolehkan jika ingin memegang udang merah dan meletakkan di telapak tangan, tapi hanya sebentar saja. Udang merah ini dilarang dimakan sebab mengandung racun. Juga bila dibawa pulang akan mengakibatkan kesialan bagi yang membawanya. Pengunjung tempat ini hanya boleh memegang udang merah, tetapi tidak boleh lama-lama sebab udang akan mati bila lama tak turun ke air.
Dari cerita yang berkembang di masyarakat Buton, kehadiran udang merah ini adalah sejak zaman kerajaan Buton di masa lalu. Dari cerita rakyat, suatu waktu sejumlah prajurit kerajaan Buton melakukan pelanggaran berat. Tidak diketahui pelanggaran berat seperti apa. Namun atas pelanggaran sehingga mereka para prajuri ini dihukum dengan kutukan menjadi udang. Mereka para prajutit kerajaan ini pun berubah menjadi udang merah dan ditempatkan dalam satu tempat untuk sejennis kolam luas untuk menjalankan kutukan sebagai udang berwarna merah. darna

